diolegue

Tuesday, November 21, 2006

Tanya dalam renita,renita?..

Tanya dalam renita,renita?..

Tak kala ada massa yang bicara thesis, antithesis serta synthesis soal-soal dialektika yang ber-ada, mungkin tan malaka sedang kencang tertawa dalam surganya. apalagi bila semuanya terbawa menyelam pada personal dalam ruang nyata. Thesis dan antinya itu digunakan untuk menjalurkan arah napas manusia yang se-lurusnya menuju syntesis yang sama. Atau apakah benar syntesisnya sama dalam berbagai nilai – tak ada entah plus atau minus – bisa dimungkinkan juga. Tetapi melihat orang yang sedang asik menyelam dalam nafasnya itu,sangat naif bila thesis dan antinya bergilir sejalan malam. Dengan yanto dikala siang dan yanti bila hari sudah berbulan,membuat alur syntesis harus punya post- nya sendiri – tak lagi hanya + dan - – hingga ada jalan tengah yang menyamakan atau sebut saja sama dengan. Lalu realitas subjek sama dengan itu kita apakan bagi kita yang plus atau minus? Cukup dilihat atau mesti diberi jalan. Atau mungkin juga dilupakan di dipangkas arah kembangnya. Serasa paling baik adalah memberi syntesis itu bernafas biar, dia dapat haknya yang memang gratis dan seharusnya bila harus itu sehat.

Sekarang biar dibuahi sendiri syn- itu, walau bila dijalani dengan pikiran bahwa melawan itu juga anti thesis yang juga diwajarkan oleh orang yang tertawa tadi, tapi keberadaan jalan menuju akhir juga diwajarkan juga olehnya dan merupakan hal penting dalam akhir kotoran-kotoran konsepnya. Dengan ini membiarkan adanya syn samadengan akam meramaikan perang plus dan minus yang tak pernah berakhir. Walau juga bisa juga diangap manambah agen perang menjadi tiga yang akan menambah keruh kejernihan aplikasi kotoran-kotoran konsep tadi. Sekali lagi biarlah perang itu terjadi untuk mendapatkan hak nafasnya mereka, siapa saja dalam penyelamannya. Entah yanti, iis ataupun renita.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home